Minggu, 29 Maret 2026

PODCAST, MISTERI PARANGKUSUMO



Perjalanan Supranatural, kami ... Kiyudi dan bang Muktafi Cepuri, Parangkusumo (Pakubumi Yogya ?) Tempat ini dipercaya sebagai tempat pertemuan antara pendiri kerajaan Mataram, Danang Sutawijaya yang kemudian bergelar Panembahan Senopati dengan penguasa pantai selatan, Kanjeng Ratu Kidul. Di Cepuri Parangkusumo seluas lebih kurang 80 meter persegi yang dikelilingi tembok itu terdapat dua buah batu hitam besar. Dua buah batu besar itu merupakan tempat bertemunya Panembahan Senopati saat bertapa dengan Kanjeng Ratu Kidul yang kemudian terjadi kontrak perkawinan politik di antara keduanya. Kontrak politik dengan kepercayaan perkawinan antara Panembahan Senopati dengan Ratu Kidul kemudian diteruskan oleh raja-raja dinasti Mataram terutama Kesultanan Yogyakarta sampai sekarang. Kameramen: Muktafi (Aulia 55 cell) #Batu_Cinta #Cepuri_Parangkusumo #Pakubumi_Yogya

SYEKH BELA BELU, YOGYAKARTA


ZIARAH KE SYEKH BELA BELU, YOGYAKARTA Laku aneh sang syekh Nama Syekh Bela-Belu disebut De Graaf dalam Kerajaan Islam Pertama di Jawa. Orang Islam yang aneh, demikian sebutnya, merujuk pada dua sosok yaitu Syekh Bela-Belu dan Gagang Aking. Keberadaan keduanya, menurut De Graaf, menjadi indikasi pentingnya wilayah muara Sungai Opak pada masa kerajaan Mataram lama sekitar tahun 1000 masehi. Dua sosok tadi juga menjadi bukti tentang alam pikiran relijius Jawa di masa silam. Penggambaran De Graaf bukanlah sebuah wujud hinaan. Surakso Trirejo, salah satu abdi dalem yang membersamai saya naik juga mengatakan hal serupa: aneh. Itu merujuk ke cara sang syekh menjalankan laku tirakat. Dalam satu fragmen cerita rakyat dengan Maulana Maghribi, Bela-Belu pernah disinggung dengan perkataan “masa hanya makan terus” oleh ulama asal Persia tersebut. Perkataan itu pun, bukanlah sebuah cemoohan belaka. Hingga, menurut cerita rakyat setempat, badan Syekh Bela-Belu digambarkan gendut. “Syekh Bela-Belu itu menjalankan lelaku dengan makan,” ungkap Tri, nama panggilan Surakso Triredjo. “Tapi, yang beliau makan adalah nasi yang dimasak bersama pasir pantai,” lanjutnya. Saya mengernyitkan dahi, mencoba menduga dan melogikakan. “Cara itu beliau tempuh untuk belajar sabar dan prihatin. Sebab beliau harus memilih satu per satu nasi di antara pasir tadi,” lanjut sang abdi dalem. “Masuk akal, kan?” tanyanya saat melihat saya masih keheranan. Kedua sosok tadi, Syekh Bela Belu dan Syekh Damiaking, adalah pelarian dari Majapahit setelah kerajaan itu mengalami pergeseran agama. Berdasar cerita rakyat, keduanya tiba setelah Panembahan Selohening menghuni area sekitar tempat tersebut. Jika menelusuri di internet, terdapat beberapa versi nama asli kedua sosok ini. Versi Tri, nama asli Bela-Belu adalah Joko Dander dan nama asli Damiaking adalah Joko Dandung. Kedua nama ini masih berkelindan antara Brawijaya V, penguasa terakhir Majapahit, dan Panembahan Selohening. Ketiga tokoh ini disebut-sebut sebagai keturunan Brawijaya V yang melarikan diri dari kerajaan Majapahit. Masih versi Tri, Bela-Belu dan Damiaking adalah sepasang saudara. Kameramen: Muktafi (Aulia 55 cell)

MISTERI RUMAH BELANDA (PART-1)

RUMAH BELANDA ANGKER (PART 2)

MENYELUSURI TANGERANG, SPESIAL IMLEK (1)

BEHIND THE SCENE "MENYELUSURI TANGERANG"

SPESIAL IMLEK, Wihara Beon Hay Bio (2)

SPESIAL IMLEK, WIhara Sobhita, Cisauk, Serpong

TERPELANTING l TARIKAN ANJING GIANT MALAMUTE (MUSIK)

BUNGA BANGKAI, KIYUDI, SECRET STORY TRANS 7

RUMAH BELANDA | RIWAYATMU KINI KIYUDI

  Penelusuran kami, Kiyudi Ke rumah Belanda Cilenggang, Serpong